Jejak Kenangan MPLS di SMA IT Tegallega — Langkah Awal Menuju Persaudaraan
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, atau yang akrab disebut MPLS, bukan sekadar serangkaian kegiatan pengenalan rutin. Bagi kami, siswa baru SMA IT Tegallega, MPLS adalah gerbang pembuka menuju babak baru kehidupan — masa yang mengubah kami dari sekumpulan orang asing menjadi satu keluarga besar. Di tengah keindahan alam yang mengelilingi tempat kami berkegiatan, terukir kenangan yang tak akan mudah pudar oleh waktu.
Langkah Pertama di Tanah Tegallega
Pagi itu, udara segar khas pedesaan menyambut kedatangan kami. Dengan seragam baru dan semangat yang masih bercampur rasa canggung, kami berkumpul di halaman SMA IT Tegallega. Tidak ada yang saling mengenal dengan baik. Tatapan mata masih ragu, sapaan masih tertahan di ujung lidah. Namun, itulah awal yang indah — di mana semuanya baru dimulai, dan setiap pertemuan adalah hal yang menakjubkan.
Kegiatan MPLS kami tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Kami diajak keluar, menyatu dengan alam yang melimpah di sekitar Tegallega. Pepohonan tinggi berdiri tegak seolah menjadi saksi perjalanan kami, sementara suara gemericik air dan kicauan burung menjadi iringan langkah kaki kami. Di sinilah kami mulai belajar — bukan dari papan tulis, melainkan dari pengalaman langsung yang menyentuh hati.
Menemukan Saudara di Tengah Alam
Salah satu momen yang paling membekas adalah perjalanan bersama menuju lokasi kegiatan di alam terbuka. Jalan yang kami tempuh tidak selalu rata; ada bagian yang menanjak, ada pula yang licin dan sulit dilalui. Di situlah keajaiban terjadi. Ketika ada teman yang mulai kelelahan, tangan-tangan terulur tanpa diminta. Ketika ada yang tertinggal di belakang, langkah kaki perlahan melambat untuk menunggu. Tidak ada yang ditinggalkan, tidak ada yang berjalan sendirian.
Kami berkumpul di tepi air, di bawah naungan dedaunan yang rimbun. Di sana, kami duduk melingkar, berbagi cerita, tawa, dan harapan. Rasa canggung perlahan menghilang, digantikan oleh rasa hangat persaudaraan. Kami menyadari bahwa di SMA IT Tegallega, kami bukan sekadar siswa yang belajar di tempat yang sama — kami adalah sahabat yang akan berjalan bersama-sama selama tiga tahun ke depan.
Para guru dan pembimbing yang mendampingi kami bukan sekadar pengawas. Mereka adalah orang tua kedua yang membimbing dengan sabar, berbagi nasihat yang menenangkan, dan mengingatkan kami bahwa perjalanan ini adalah cerminan masa depan. Bahwa hidup pun seperti jalan yang kami tempuh hari itu — penuh tanjakan dan turunan, namun jika kita berpegangan tangan dan saling menguatkan, tidak ada rintangan yang tidak dapat dilalui.
Pelajaran yang Tak Tertulis di Buku
MPLS di SMA IT Tegallega mengajarkan kami hal-hal yang tidak bisa dibaca di dalam buku pelajaran:
– Tentang persatuan: Bahwa kekuatan sebuah kelompok tidak diukur dari siapa yang paling kuat atau paling pintar, melainkan dari seberapa erat mereka saling menyatukan hati.
– Tentang ketangguhan: Bahwa rasa lelah dan kesulitan di tengah perjalanan akan terbayar lunas ketika kami sampai di tujuan dan melihat keindahan yang ada di depan mata.
– Tentang rasa syukur: Bahwa alam yang indah di sekitar Tegallega ini adalah amanah yang harus dijaga, dan kami adalah bagian kecil dari kebesaran-Nya.
– Tentang harapan: Bahwa masa sekolah yang baru saja kami mulai seperti perjalanan ini — penuh tantangan, namun juga penuh peluang untuk tumbuh, berkarya, dan membanggakan nama sekolah serta orang tua.
Kenangan yang Tetap Menyala
Kini masa MPLS telah berlalu. Foto-foto yang kami ambil di tengah hijau alam Tegallega menjadi bukti bisu bahwa kami pernah berjalan bersama, berkeringat bersama, dan tertawa bersama. Rasa canggung yang dulu ada kini telah berubah menjadi rasa sayang dan kepedulian satu sama lain.
Setiap kali kami melewati jalan setapak atau melihat pepohonan yang rimbun, ingatan itu kembali datang — tentang pagi-pagi yang sejuk, tentang tawa yang menggema di lembah, tentang tangan-tangan yang saling menolong. Itulah kenangan MPLS kami di SMA IT Tegallega — bukan sekadar masa pengenalan yang berlalu, melainkan fondasi persaudaraan yang akan kami bawa sepanjang masa sekolah dan bahkan hingga ke masa depan.
Kami berjanji, akan menjaga semangat itu tetap menyala — semangat persaudaraan, semangat belajar, dan semangat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, sebagaimana yang diajarkan SMA IT Tegallega kepada kami.
Karya/penulis : Dinina sumuliah
Siswi SMA IT Tegallega









Komentar