Kami membaca sejarah
bukan hanya dari halaman buku,
tetapi dari tanah yang pernah merah oleh darah,
dari bambu runcing yang menggigil di tangan para pejuang,
dan dari air mata ibu-ibu
yang mengantar anaknya menuju medan perjuangan.
Kami mendengar gema
17 Agustus 1945,
ketika suara kemerdekaan menggetarkan langit Nusantara.
Sejak hari itu,
Indonesia berdiri bukan karena belas kasihan,
melainkan karena keberanian yang tak mengenal menyerah.
Wahai generasi muda,
jangan biarkan sejarah menjadi sekadar hafalan.
Jadikan ia nyala yang menerangi langkah,
agar pengorbanan para pahlawan
tidak berakhir sebagai cerita yang terlupakan.
Kemerdekaan bukan sekadar mengibarkan Merah Putih.
Ia adalah keberanian menjaga kejujuran
di tengah godaan,
menanam ilmu di tengah kebodohan,
dan merawat persatuan
di tengah perbedaan.
Negeri ini pernah dibangun
oleh mereka yang rela kehilangan segalanya
agar anak cucunya hidup merdeka.
Kini, tugas itu berpindah ke tangan kita.
Bukan lagi mengangkat senjata,
melainkan mengangkat martabat bangsa
melalui karya, ilmu, dan kepedulian.
Biarlah sejarah menjadi akar,
kemerdekaan menjadi batang,
dan generasi muda menjadi ranting-ranting harapan
yang terus bertumbuh menuju langit.
Karena bangsa yang besar
bukan hanya mengenang jasa para pahlawannya,
tetapi melahirkan generasi
yang pantas disebut sebagai penerus perjuangan.
Indonesia…
namamu ditulis dengan pengorbanan.
Semoga kami menjagamu
dengan kejujuran, keberanian,
dan cinta yang tak pernah padam.
Agys



Komentar